Samarinda, Sekala.id – Meningkatnya penggunaan gadget di kalangan anak-anak tak hanya memunculkan kekhawatiran soal kecanduan media sosial, tetapi juga dampaknya terhadap kesehatan. Anggota Komisi I DPRD Kota Samarinda, Suparno, menilai rencana pemerintah pusat membatasi akses media sosial bagi anak usia 8 hingga 16 tahun menjadi langkah penting untuk melindungi generasi muda dari berbagai risiko tersebut.
Bagi Suparno, pembatasan akses media sosial bukan sekadar membatasi aktivitas digital anak. Kebijakan itu dinilai sebagai upaya preventif agar anak-anak tidak terlalu lama terpapar layar gawai dan konten yang belum sesuai dengan usia mereka.
Dia mengatakan, saat ini penggunaan gawai pintar oleh anak semakin sulit dikendalikan. Di sisi lain, pengawasan dari orang tua belum selalu berjalan optimal.
“Kerap anak diberi telepon genggam agar tetap tenang saat orang tua sedang beraktivitas. Padahal, kita tidak pernah benar-benar tahu konten apa yang mereka akses atau tonton melalui perangkat itu,” ujar Suparno, Selasa (4/8/2026).
Menurutnya, kondisi tersebut membuat anak-anak bebas mengakses permainan maupun berbagai platform digital tanpa penyaringan yang memadai. Jika terus dibiarkan, kebiasaan itu berpotensi memicu ketergantungan terhadap gadget sejak usia dini.
Karena itu, dia mendukung langkah pemerintah pusat untuk menerapkan pembatasan usia dalam penggunaan media sosial. Menurutnya, regulasi tersebut dapat menjadi lapisan perlindungan tambahan di samping pengawasan yang dilakukan keluarga.
“Kalau ada pembatasan usia untuk mengakses konten tertentu, saya kira itu langkah yang tepat. Sebab, persoalan kecanduan gadget di kalangan anak sekarang memang sudah sangat mengkhawatirkan,” katanya.
Suparno menegaskan, regulasi tidak akan menggantikan peran orang tua. Namun, aturan dari pemerintah dapat membantu mempersempit ruang bagi anak untuk mengakses konten yang tidak sesuai dengan tahap perkembangan mereka.
Lebih jauh, dia mengingatkan bahwa dampak penggunaan gadget tidak hanya berkaitan dengan perilaku, tetapi juga kesehatan fisik. Salah satu fenomena yang kini semakin mudah ditemui, kata dia, adalah banyaknya anak usia sekolah dasar yang mengalami gangguan penglihatan.
“Kalau diperhatikan sekarang, sudah banyak anak SD memakai kacamata tebal. Salah satu penyebabnya karena terlalu sering terpapar layar gadget sejak usia dini,” tuturnya.
Atas dasar itu, Suparno berharap masyarakat, terutama para orang tua, melihat kebijakan pembatasan media sosial sebagai bentuk perlindungan, bukan pembatasan kebebasan anak. Menurutnya, pemerintah sedang berupaya menciptakan ruang digital yang lebih aman sekaligus membantu orang tua menghadapi tantangan pengasuhan di era digital.
“Saya rasa orang tua justru perlu bersyukur karena pemerintah ikut membantu menjaga anak-anak kita demi masa depan mereka,” pungkasnya. (Jor/El/ADV/DPRD Samarinda)