By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Sekala.id
  • Nasional
  • Daerah
    • Samarinda
    • Balikpapan
    • Bontang
    • Kutai Kartanegara
    • Kutai Timur
    • Kutai Barat
  • Peristiwa
  • Hukum & Kriminal
  • Politik
  • Ekonomi
  • Lainnya
    • Pemerintahan
    • Parlemen
    • Advertorial
    • Kultur
    • Olahraga
    • Hiburan
    • Inspirasi
Sekala.idSekala.id
Font ResizerAa
  • Nasional
  • Daerah
  • Hukum & Kriminal
  • Politik
  • Ekonomi
  • Pemerintahan
  • Parlemen
  • Kultur
  • Olahraga
  • Peristiwa
  • Inspirasi
  • Advertorial
  • Hiburan
Search
  • Nasional
  • Daerah
    • Balikpapan
    • Bontang
    • Kutai Kartanegara
    • Samarinda
    • Kutai Barat
  • Hukum & Kriminal
  • Politik
  • Ekonomi
  • Pemerintahan
  • Parlemen
  • Kultur
  • Olahraga
  • Peristiwa
  • Inspirasi
  • Advertorial
  • Hiburan
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
© 2023 sekala.id. PT Sekala Media Klausa. All Rights Reserved
Samarinda

Koridor Satwa Disiapkan untuk Redam Konflik Orangutan di Kutai Timur

Redaksi
By Redaksi
Published: Senin, 15 Juni 2026
Share
Sejumlah orangutan terlihat memanfaatkan kantong habitat di lanskap Keraitan, Kutai Timur. (HO BKSDA Kaltim)
SHARE

Samarinda, Sekala.id – Sebagian besar konflik antara manusia dan orangutan di Kalimantan Timur (Kaltim) ternyata terkonsentrasi di satu wilayah. Data Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kaltim menunjukkan hampir 70 persen kasus konflik orangutan terjadi di Lanskap Keraitan, kawasan seluas sekitar 560 ribu hektare yang membentang dari Sungai Mahakam hingga Sungai Kelay.

Angka tersebut menjadi peringatan bahwa tekanan terhadap habitat orangutan di kawasan itu semakin tinggi. Aktivitas pertambangan, perkebunan sawit, hutan tanaman industri, hingga ekspansi permukiman membuat ruang hidup satwa endemik Kalimantan tersebut terus terbelah.

Kepala BKSDA Kaltim, Ari Wibawanto, mengatakan Lanskap Keraitan merupakan salah satu habitat utama Orangutan Morio yang masih tersisa di Kaltim. Namun, kawasan tersebut kini menghadapi tekanan besar karena dihuni banyak pemegang izin dengan berbagai fungsi lahan.

“Hampir 70 persen konflik orangutan di Kalimantan Timur terjadi di Lanskap Keraitan. Ini menunjukkan bahwa kawasan ini menjadi titik krusial yang harus segera ditangani bersama,” ujarnya.

Konflik yang dimaksud tidak hanya berupa perjumpaan langsung antara manusia dan orangutan. Dalam banyak kasus, satwa tersebut ditemukan melintas di jalan hauling tambang, memasuki areal perkebunan, hingga mendekati permukiman warga karena kehilangan jalur jelajah alami.

Founder Conservation Action Network (CAN), Paulinus Kristanto, menilai persoalan utama bukan sekadar berkurangnya luasan hutan, melainkan terputusnya hubungan antarhabitat yang selama ini menjadi jalur pergerakan orangutan.

Menurutnya, sekitar 76 persen populasi orangutan hidup di luar kawasan konservasi yang dilindungi negara. Artinya, keberlangsungan populasi sangat bergantung pada kondisi habitat yang berada di area konsesi perusahaan dan kawasan budidaya lainnya.

“Ketika habitat terpecah dan tidak lagi terhubung, orangutan akan terisolasi. Pada akhirnya mereka keluar dari kawasan hutan dan berhadapan langsung dengan aktivitas manusia,” katanya.

Situasi tersebut mendorong pemerintah, akademisi, organisasi konservasi, dan perusahaan menyusun langkah bersama melalui pembentukan Forum Konservasi Orangutan Terpadu Lanskap Keraitan.

Forum tersebut menjadi wadah koordinasi lintas sektor untuk menyatukan berbagai program konservasi yang selama ini berjalan sendiri-sendiri. Salah satu target utamanya adalah menjaga konektivitas habitat orangutan agar konflik dapat ditekan.

Sementara itu, kkademisi Universitas Mulawarman (Unmul), Yaya Rayadin, yang dipercaya menjadi ketua forum, mengatakan upaya konservasi di Lanskap Keraitan sebenarnya sudah berlangsung selama bertahun-tahun. Namun, koordinasi antar-pihak dinilai masih perlu diperkuat.

“Yang kami lakukan sekarang adalah menyatukan seluruh inisiatif yang sudah ada agar dampaknya lebih besar dan pelaksanaannya lebih cepat,” ujarnya.

Sebagai langkah awal, forum mengusulkan pembentukan Areal Preservasi Habitat Orangutan seluas 101.005,24 hektare di sekitar Hutan Lindung Keraitan. Kawasan itu diharapkan menjadi koridor yang menghubungkan kantong-kantong habitat orangutan yang selama ini terpisah.

Jika usulan tersebut terealisasi, Lanskap Keraitan tidak hanya menjadi wilayah dengan konflik orangutan tertinggi di Bumi Etam, tetapi juga berpotensi menjadi model konservasi bentang alam yang melibatkan pemerintah, akademisi, masyarakat, dan sektor industri secara bersamaan. (Kal/El/Sekala)

TAGGED:Ari WibawantoBKSDA KaltimConservation Action NetworkOrangutanPaulinus Kristanto
Share This Article
Facebook Pinterest Whatsapp Whatsapp Email Copy Link Print
Previous Article Bupati Frederick Edwin Resmi Buka Liga Anak dan Remaja se-Kutai Barat
Next Article Eks Nakes RS Bhakti Nugraha Diyakini Tak Sulit Cari Kerja, DPRD Samarinda Sebut Tiga RS Baru Butuh SDM

Berita Undas

Duta Baca Kutai Barat 2026, Resmi di Sandang Diah Rizqi Pangestika
Sabtu, 1 Agustus 2026
Percepat Pembangunan Strategis, Pemkab Usulkan Kontrak Tahun Jamak Rp2,52 Triliun
Sabtu, 1 Agustus 2026
PDIP Setujui Raperda Pertanggungjawaban APBD 2025, Soroti SILPA Rp572 Miliar hingga Efektivitas Belanja
Sabtu, 1 Agustus 2026
Golkar Minta Samarinda Kurangi Ketergantungan Dana Pusat, Dorong PAD Jadi Penopang Utama
Sabtu, 1 Agustus 2026
Gerindra Setujui Raperda Pertanggungjawaban APBD 2025, Soroti Capaian Fiskal dan Program Prioritas
Sabtu, 1 Agustus 2026

Berita yang mungkin kamu sukai

Pemerintahan

Panen Padi di Samarinda: Keberhasilan di Tengah Hoaks Ketahanan Pangan

2 Min Read
Advertorial

Sembilan Tahun Penantian, Basket Putri Kaltim Kembali Bersinar di Popnas

2 Min Read
Advertorial

Ritel Modern Diusulkan Wajib Sediakan 30 Persen Ruang untuk Produk UMKM Samarinda

2 Min Read
Parlemen

Tentukan Nasib Hak Angket, DPRD Kaltim Gelar Rapat Penentu 4 Mei Mendatang

2 Min Read
Sekala.id

Afiliasi:

Logo SMSI
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
© 2023 sekala.id. PT Sekala Media Klausa. All Rights Reserved
Welcome Back!

Sign in to your account

Nama Pengguna
Password

Lost your password?