Samarinda, Sekala.id – Sebagian besar konflik antara manusia dan orangutan di Kalimantan Timur (Kaltim) ternyata terkonsentrasi di satu wilayah. Data Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kaltim menunjukkan hampir 70 persen kasus konflik orangutan terjadi di Lanskap Keraitan, kawasan seluas sekitar 560 ribu hektare yang membentang dari Sungai Mahakam hingga Sungai Kelay.
Angka tersebut menjadi peringatan bahwa tekanan terhadap habitat orangutan di kawasan itu semakin tinggi. Aktivitas pertambangan, perkebunan sawit, hutan tanaman industri, hingga ekspansi permukiman membuat ruang hidup satwa endemik Kalimantan tersebut terus terbelah.
Kepala BKSDA Kaltim, Ari Wibawanto, mengatakan Lanskap Keraitan merupakan salah satu habitat utama Orangutan Morio yang masih tersisa di Kaltim. Namun, kawasan tersebut kini menghadapi tekanan besar karena dihuni banyak pemegang izin dengan berbagai fungsi lahan.
“Hampir 70 persen konflik orangutan di Kalimantan Timur terjadi di Lanskap Keraitan. Ini menunjukkan bahwa kawasan ini menjadi titik krusial yang harus segera ditangani bersama,” ujarnya.
Konflik yang dimaksud tidak hanya berupa perjumpaan langsung antara manusia dan orangutan. Dalam banyak kasus, satwa tersebut ditemukan melintas di jalan hauling tambang, memasuki areal perkebunan, hingga mendekati permukiman warga karena kehilangan jalur jelajah alami.
Founder Conservation Action Network (CAN), Paulinus Kristanto, menilai persoalan utama bukan sekadar berkurangnya luasan hutan, melainkan terputusnya hubungan antarhabitat yang selama ini menjadi jalur pergerakan orangutan.
Menurutnya, sekitar 76 persen populasi orangutan hidup di luar kawasan konservasi yang dilindungi negara. Artinya, keberlangsungan populasi sangat bergantung pada kondisi habitat yang berada di area konsesi perusahaan dan kawasan budidaya lainnya.
“Ketika habitat terpecah dan tidak lagi terhubung, orangutan akan terisolasi. Pada akhirnya mereka keluar dari kawasan hutan dan berhadapan langsung dengan aktivitas manusia,” katanya.
Situasi tersebut mendorong pemerintah, akademisi, organisasi konservasi, dan perusahaan menyusun langkah bersama melalui pembentukan Forum Konservasi Orangutan Terpadu Lanskap Keraitan.
Forum tersebut menjadi wadah koordinasi lintas sektor untuk menyatukan berbagai program konservasi yang selama ini berjalan sendiri-sendiri. Salah satu target utamanya adalah menjaga konektivitas habitat orangutan agar konflik dapat ditekan.
Sementara itu, kkademisi Universitas Mulawarman (Unmul), Yaya Rayadin, yang dipercaya menjadi ketua forum, mengatakan upaya konservasi di Lanskap Keraitan sebenarnya sudah berlangsung selama bertahun-tahun. Namun, koordinasi antar-pihak dinilai masih perlu diperkuat.
“Yang kami lakukan sekarang adalah menyatukan seluruh inisiatif yang sudah ada agar dampaknya lebih besar dan pelaksanaannya lebih cepat,” ujarnya.
Sebagai langkah awal, forum mengusulkan pembentukan Areal Preservasi Habitat Orangutan seluas 101.005,24 hektare di sekitar Hutan Lindung Keraitan. Kawasan itu diharapkan menjadi koridor yang menghubungkan kantong-kantong habitat orangutan yang selama ini terpisah.
Jika usulan tersebut terealisasi, Lanskap Keraitan tidak hanya menjadi wilayah dengan konflik orangutan tertinggi di Bumi Etam, tetapi juga berpotensi menjadi model konservasi bentang alam yang melibatkan pemerintah, akademisi, masyarakat, dan sektor industri secara bersamaan. (Kal/El/Sekala)