By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Sekala.id
  • Nasional
  • Daerah
    • Samarinda
    • Balikpapan
    • Bontang
    • Kutai Kartanegara
    • Kutai Timur
    • Kutai Barat
  • Peristiwa
  • Hukum & Kriminal
  • Politik
  • Ekonomi
  • Lainnya
    • Pemerintahan
    • Parlemen
    • Advertorial
    • Kultur
    • Olahraga
    • Hiburan
    • Inspirasi
Header
Sekala.idSekala.id
Font ResizerAa
  • Nasional
  • Daerah
  • Hukum & Kriminal
  • Politik
  • Ekonomi
  • Pemerintahan
  • Parlemen
  • Kultur
  • Olahraga
  • Peristiwa
  • Inspirasi
  • Advertorial
  • Hiburan
Search
  • Nasional
  • Daerah
    • Balikpapan
    • Bontang
    • Kutai Kartanegara
    • Samarinda
    • Kutai Barat
  • Hukum & Kriminal
  • Politik
  • Ekonomi
  • Pemerintahan
  • Parlemen
  • Kultur
  • Olahraga
  • Peristiwa
  • Inspirasi
  • Advertorial
  • Hiburan
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
© 2023 sekala.id. PT Sekala Media Klausa. All Rights Reserved
Kultur

Batik Hokokai: Kreativitas dan Adaptasi Pembatik di Masa Penjajahan Jepang

Redaksi
By Redaksi
Published: Kamis, 25 Mei 2023
Share
Corak Batik Hokokai (Sumber: Google.com)
SHARE

Sekala.id – Batik, warisan budaya Indonesia yang diakui oleh UNESCO sebagai Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity pada tahun 2009. Batik memiliki berbagai jenis, motif, dan warna yang mencerminkan kekayaan dan keragaman budaya bangsa Indonesia. Salah satu jenis batik yang menarik untuk diketahui adalah batik hokokai.

Batik hokokai adalah sebutan untuk gaya batik khas yang diciptakan semasa Penjajahan Jepang (1942-1945) di pesisir utara Jawa, terutama di Pekalongan. Batik ini merupakan hasil dari akulturasi budaya Jepang dan Indonesia. Batik hokokai memiliki ciri khas motif bunga, seperti bunga sakura dan serunai, serta warna-warna cerah seperti kuning, ungu, orange dan merah menyala. Batik ini juga banyak menggunakan motif pagi-sore, yaitu dalam selembar kain terdapat dua corak yang berbeda.

Nama batik hokokai berasal dari nama sebuah organisasi resmi propaganda rintisan Jepang yang bernama Jawa Hokokai (ジャワ奉公会) yang memiliki arti Himpunan Masyarakat Kebaktian Jawa. Kata Hokokai (奉公会) secara literatur artinya Himpunan Pengabdi Masyarakat atau Himpunan Masyarakat. Himpunan ini dibuat oleh pemerintah Jepang pada tahun 1944 untuk menggantikan organisasi lain yang bernama Putera (Pusat Tenaga Rakyat) yang juga dibentuk oleh Jepang pada tahun 1943.

Batik hokokai dibuat sebagai persembahan pada sang penguasa baru pada jaman itu, yaitu Jepang. Batik ini dibuat dengan menyelaraskan motif dan ornamen yang dibuat dengan selera orang Jepang seperti Kimono. Pembatik-pembatik di pesisir utara Jawa melahirkan ragam batik tulis khas yang disebut batik hokokai dengan menggunakan indera mereka untuk menangkap hal yang lain dalam suatu peristiwa. Misalnya, perdebatan DPR, mereka tidak akan duduk di atas bersama wartawan lain. Mereka akan blusukan, duduk di belakang panggung, untuk mendapatkan sense peristiwa itu.

Batik hokokai memiliki latar belakang yang sangat detail. Detail tersebut terlihat dari pola susomoyo, yaitu pola pinggiran yang terdiri atas ragam hias kupu-kupu dan bunga yang disusun dari pojok bawah ke arah samping. Selain itu, detail juga terlihat dari motif-motif lainnya seperti bunga sakura, kupu-kupu, merak, dan lain-lain.

Motif pagi-sore adalah istilah yang biasa digunakan untuk menyebut batik dengan dua macam motif dalam satu lembarnya. Kedua motif tersebut bertemu dalam satu garis horizontal atau diagonal. Motif ini tercipta karena kesulitan hidup pada masa penjajahan Jepang, sehingga untuk penghematan, pembatik membuat kain batik dengan dua desain yang berbeda. Dengan begitu, pemakai bisa memberikan dua tampilan sekaligus dengan membalik sisi kain yang dipakai. Motif pagi-sore juga mengajarkan untuk tetap kreatif dalam segala situasi yang dihadapi.

Dahulu batik hokokai digunakan oleh masyarakat kurang mampu, padahal batik ini diciptakan dengan sangat prestisius dan tingkat kesulitan pada saat proses pembuatannya. Alasan batik ini dibuat untuk masyarakat kurang mampu terlihat dalam motif batik tersebut yaitu motif pagi-sore, karena pada saat pemakaiannya mampu menghemat biaya.

Batik hokokai tidak serta merta lenyap bersamaan dengan hengkangnya Jepang dari Indonesia. Bahkan motif batik itu kini berkembang menjadi batik eksklusif yang banyak dicari oleh kolektor. Batik hokokai menjadi bukti kuasa Jepang di Indonesia sekaligus warisan budaya dan pola Indonesia yang patut dilestarikan. (Zal/Mul/Sekala)

TAGGED:BatikBatik HokokaiJawa HokokaiJepangKimonoSejarah Batik Hokokai
Share This Article
Facebook Pinterest Whatsapp Whatsapp Email Copy Link Print
Previous Article The Little Mermaid, Antara Kontroversi Ariel dan Nostalgia
Next Article PDI Perjuangan Gelorakan Nilai-nilai Pancasila di Hari Lahirnya

Berita Undas

Meski Diguyur Hujan, Sebanyak Ratusan Anak Antusias Ikuti Simulasi Manasik Haji for Kids
Kamis, 20 November 2025
Pemkab Kutai Barat Gelar Pasar Murah, Wujud Dari Komitmen Pemerintah Dalam Menjaga Stabilitas Harga
Kamis, 20 November 2025
Festival Budaya Tanjung Isuy Akan di Laksanakan Mulai Tanggal 24 hingga 26 November 2025
Kamis, 20 November 2025
Ketua Karang Taruna Kabupaten Kutai Barat, Tobi Rikardo Terpilih Secara Aklamasi
Jumat, 21 November 2025
Penyerahan Dokumen KRB dan RPB 2025 Jadi Langkah Penting Memperkuat Kebijakan Penanggulangan Bencana di Kubar
Kamis, 20 November 2025

Berita yang mungkin kamu sukai

Kultur

Soto, Kuliner Akulturasi yang Menyatu dengan Budaya Nusantara

4 Min Read
Kultur

Kemeriahan Kirab Budaya EBIFF 2024, Kaltim Jadi Panggung Global untuk Keragaman Budaya

3 Min Read
Kultur

Madihin: Seni Tutur yang Menjadi Warisan Budaya non-Benda Kalimantan Selatan

3 Min Read
Sekala.id

Afiliasi:

Logo SMSI
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
© 2023 sekala.id. PT Sekala Media Klausa. All Rights Reserved
Welcome Back!

Sign in to your account

Nama Pengguna
Password

Lost your password?