By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Sekala.id
  • Nasional
  • Daerah
    • Samarinda
    • Balikpapan
    • Bontang
    • Kutai Kartanegara
    • Kutai Timur
    • Kutai Barat
  • Peristiwa
  • Hukum & Kriminal
  • Politik
  • Ekonomi
  • Lainnya
    • Pemerintahan
    • Parlemen
    • Advertorial
    • Kultur
    • Olahraga
    • Hiburan
    • Inspirasi
Header
Sekala.idSekala.id
Font ResizerAa
  • Nasional
  • Daerah
  • Hukum & Kriminal
  • Politik
  • Ekonomi
  • Pemerintahan
  • Parlemen
  • Kultur
  • Olahraga
  • Peristiwa
  • Inspirasi
  • Advertorial
  • Hiburan
Search
  • Nasional
  • Daerah
    • Balikpapan
    • Bontang
    • Kutai Kartanegara
    • Samarinda
    • Kutai Barat
  • Hukum & Kriminal
  • Politik
  • Ekonomi
  • Pemerintahan
  • Parlemen
  • Kultur
  • Olahraga
  • Peristiwa
  • Inspirasi
  • Advertorial
  • Hiburan
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
© 2023 sekala.id. PT Sekala Media Klausa. All Rights Reserved
Kultur

Soto, Kuliner Akulturasi yang Menyatu dengan Budaya Nusantara

Redaksi
By Redaksi
Published: Rabu, 24 Mei 2023
Share
Ilustrasi pedagang soto (sumber: Google.com)
SHARE

Sekala.id – Soto, siapa yang tidak mengenal kuliner berkuah gurih dan hangat ini? Hampir di setiap daerah di Indonesia, kita bisa menemukan warung atau pedagang kaki lima yang menjajakan soto dengan berbagai varian dan cita rasa.

Contents
  • Jejak Sejarah Soto
  • Soto sebagai Identitas Kuliner Indonesia

Soto bisa jadi menduduki peringkat atas makanan paling populer di Indonesia bersama nasi goreng, nasi padang, dan bakso. Namun, tahukah Anda bahwa soto sebenarnya bukanlah hidangan asli Nusantara, melainkan hasil akulturasi budaya Tionghoa dan Indonesia?

Jejak Sejarah Soto

Menurut beberapa sumber, soto berasal dari makanan Tiongkok yang bernama caudo atau jao to yang artinya jeroan dan rempah-rempah. Kemudian kata caudo atau jao to mengalami penyerapan bahasa. Soto untuk bentuk umumnya, coto digunakan di daerah Sulawesi, dan tauto untuk daerah Pekalongan, Jawa Tengah.

Caudo disajikan dengan kuah kaldu yang dibumbui dengan jahe, bawang putih, merica, dan garam. Awalnya, caudo biasanya dimakan dengan nasi, bihun, atau kwetiau sebagai karbohidrat.

Soto pertama kali populer di wilayah Semarang pada abad 19 karena banyaknya pedagang Tionghoa yang berdagang di pelabuhan. Pelabuhan menjadi tempat dengan mobilitas tertinggi pada masa lampau. Banyak orang yang lalu lalang untuk berdagang, bekerja, atau berkunjung ke suatu daerah. Karena itu, makanan cepat saji seperti Caudo menjadi pilihan yang praktis dan mengenyangkan.

Namun, karena penduduk pesisir Jawa pada umumnya beragama Islam, maka daging babi yang digunakan dalam Caudo diganti dengan daging ayam, sapi, atau kerbau. Selain itu, bumbu-bumbu lokal seperti kunyit, serai, daun salam, daun jeruk, kemiri, dan santan juga ditambahkan untuk memberikan rasa yang lebih kaya dan sesuai dengan selera orang Indonesia.

Dari Semarang, soto kemudian menyebar ke berbagai daerah di Indonesia dan mengalami modifikasi sesuai dengan bahan dan budaya lokal. Misalnya, soto Betawi yang menggunakan santan kental dan kentang goreng sebagai pelengkap. Soto Banjar yang menggunakan ketupat, perkedel, dan telur bebek rebus sebagai lauk pauk. Sementara soto Makassar atau coto yang menggunakan daging sapi lauk, dan air tajin dalam campuran kuahnya.

Soto sebagai Identitas Kuliner Indonesia

Saat ini, soto telah menjadi salah satu kuliner khas Indonesia yang memiliki banyak varian dan cita rasa. Profesor Murdijati Gardijito seorang guru besar Universitas Gajah Mada menyebutkan bahwa ada 75 varian soto yang ada di Indonesia, dengan 61 jenis di antaranya berasal dari Jawa dan Madura. Sisanya tersebar di Sumatra, NTB, Sulawesi dan Kalimantan.

Soto juga telah menjadi bagian dari identitas kuliner Indonesia yang dikenal di mancanegara. Beberapa restoran Indonesia di luar negeri menyajikan soto sebagai menu andalan mereka. Misalnya, Awang Kitchen di New York, Amerika Serikat yang menawarkan soto lamongan, soto betawi, dan soto madura. Selain itu, di Amsterdam, Belanda ada Made’s Warung yang juga menyediakan soto lamongan.

Soto merupakan contoh nyata dari akulturasi budaya yang terjadi di Indonesia sejak zaman dahulu. Dari sebuah hidangan Tiongkok yang sederhana, soto telah berkembang menjadi sebuah kuliner Indonesia yang kaya akan ragam dan rasa. Soto juga menunjukkan bagaimana orang Indonesia mampu beradaptasi dan berkreasi dengan bahan-bahan lokal untuk menciptakan hidangan yang lezat dan sehat. (Mul2/Sekala)

Sumber:

Lombard D., 2005. Nusa Jawa: Silang Budaya (Jilid II). Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Anggraeni U., 2017. Multikulturalisme Makanan Indonesia: Akulturasi Budaya Makanan Nusantara dalam Perspektif Sejarah. Jakarta: Penerbit Buku Kompas.

TAGGED:Aneka SotoAsal Mula SotoKulinerSejarah SotoSotoUndas
Share This Article
Facebook Pinterest Whatsapp Whatsapp Email Copy Link Print
Previous Article Polisi Tangkap Pemodal Tambang Batu Bara Ilegal di Muang Dalam, Sita 100 Metrik Ton
Next Article The Little Mermaid, Antara Kontroversi Ariel dan Nostalgia

Berita Undas

Sengketa Lahan Berlarut-larut, Warga Kaltim Bakal “Ketuk Pintu Gubernur” Senin Ini
Sabtu, 16 Mei 2026
Membalas Megafon dengan Mawar, Cara Drupadi Baladika Redam Tensi Panas di Depan Kantor Gubernur Kaltim
Sabtu, 16 Mei 2026
Dongkrak Kualitas Kriya Kaltim, Dekranasda Gandeng Desainer Nasional Sasar Sentra Kerajinan
Kamis, 14 Mei 2026
Gratispol Belum Sempurna? Begini Analisis Zain Taufiq Nurrohman
Kamis, 14 Mei 2026
Bukan Bim Salabim, Pemprov Kaltim Janji Rombak Teknis Gratispol yang Dikeluhkan
Kamis, 14 Mei 2026

Berita yang mungkin kamu sukai

Hukum & Kriminal

Kasus Kode Etik Menghantui Firli Bahuri, Polisi Geledah Rumahnya di Bekasi

2 Min Read
Kultur

Madihin: Seni Tutur yang Menjadi Warisan Budaya non-Benda Kalimantan Selatan

3 Min Read
Hukum & Kriminal

Senjata Api SYL, Legal tapi Belum Dilaporkan

1 Min Read
Gaya Hidup

5 Tips Mengatur Keuangan Pribadi dengan Bijak dan Hemat

3 Min Read
Sekala.id

Afiliasi:

Logo SMSI
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
© 2023 sekala.id. PT Sekala Media Klausa. All Rights Reserved
Welcome Back!

Sign in to your account

Nama Pengguna
Password

Lost your password?