By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Sekala.id
  • Nasional
  • Daerah
    • Samarinda
    • Balikpapan
    • Bontang
    • Kutai Kartanegara
    • Kutai Timur
    • Kutai Barat
  • Peristiwa
  • Hukum & Kriminal
  • Politik
  • Ekonomi
  • Lainnya
    • Pemerintahan
    • Parlemen
    • Advertorial
    • Kultur
    • Olahraga
    • Hiburan
    • Inspirasi
Sekala.idSekala.id
Font ResizerAa
  • Nasional
  • Daerah
  • Hukum & Kriminal
  • Politik
  • Ekonomi
  • Pemerintahan
  • Parlemen
  • Kultur
  • Olahraga
  • Peristiwa
  • Inspirasi
  • Advertorial
  • Hiburan
Search
  • Nasional
  • Daerah
    • Balikpapan
    • Bontang
    • Kutai Kartanegara
    • Samarinda
    • Kutai Barat
  • Hukum & Kriminal
  • Politik
  • Ekonomi
  • Pemerintahan
  • Parlemen
  • Kultur
  • Olahraga
  • Peristiwa
  • Inspirasi
  • Advertorial
  • Hiburan
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
© 2023 sekala.id. PT Sekala Media Klausa. All Rights Reserved
AdvertorialParlemenSamarinda

DPRD Samarinda Dorong Lokasi Khusus untuk Pedagang Gerobak Kopi

Redaksi
By Redaksi
Published: Selasa, 11 Agustus 2026
Share
Salah satu brand Kopi sepeda keliling yang mangkal di pinggir jalan di wilayah Samarinda.
SHARE

Samarinda, Sekala.id – Penataan pedagang gerobak kopi di Kota Samarinda dinilai perlu diarahkan pada penyediaan ruang usaha yang jelas, bukan hanya melalui penertiban. Pemerintah kota didorong menyiapkan sejumlah titik khusus agar aktivitas ekonomi masyarakat tetap berjalan tanpa mengganggu fungsi trotoar maupun badan jalan.

Anggota Komisi I DPRD Kota Samarinda, Suparno, mengatakan pemerintah perlu mencari titik temu antara kepentingan penataan kota dan kebutuhan masyarakat yang menggantungkan penghasilan dari usaha kecil.

Menurutnya, keberadaan gerobak kopi di sejumlah trotoar dan badan jalan memang menjadi persoalan apabila tidak ditata. Selain berpotensi mengganggu pejalan kaki dan pengguna jalan, aktivitas tersebut juga dapat memengaruhi kerapian ruang publik.

Namun, kata Suparno, persoalan itu tidak cukup diselesaikan dengan pendekatan penertiban. Pemerintah juga perlu melihat kondisi sosial dan ekonomi para pedagang yang menjadikan usaha tersebut sebagai sumber penghidupan.

“Kalau dari sisi kemanusiaan, tentu kasihan juga. Mereka bagian dari UMKM yang sedang berusaha bertahan di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih,” ujar Suparno, Senin (10/8/2026).

Karena itu, dia mengusulkan agar Pemerintah Kota Samarinda terlebih dahulu memetakan lokasi yang memungkinkan untuk dijadikan sentra pedagang gerobakan. Dengan adanya lokasi yang ditetapkan, aktivitas usaha dapat berlangsung lebih tertib sekaligus memudahkan pemerintah melakukan pengawasan.

Tidak hanya soal lokasi, pengaturan jam operasional juga dinilai penting. Pemerintah dapat menentukan waktu berjualan agar keberadaan pedagang tidak berbenturan dengan aktivitas masyarakat di ruang publik.

“Misalnya disediakan tempat di titik A, B, atau C, kemudian diatur boleh berjualan dari jam berapa sampai jam berapa. Dengan begitu, ketertiban tetap terjaga dan ekonomi masyarakat juga tetap berjalan,” katanya.

Suparno menilai pola tersebut akan lebih efektif apabila dirancang secara terpadu. Penataan tidak hanya menjadi tugas satu organisasi perangkat daerah, tetapi perlu melibatkan instansi terkait hingga tingkat kecamatan dan kelurahan.

Pelibatan perangkat di tingkat kewilayahan dinilai penting karena pemerintah dapat lebih mudah memetakan keberadaan pedagang, kebutuhan lokasi, hingga persoalan yang muncul di lapangan. Pendekatan semacam itu juga diharapkan menghasilkan kebijakan yang tidak berhenti pada penertiban sesaat.

Di sisi lain, pembinaan terhadap pelaku usaha kecil perlu ditempatkan sebagai bagian dari proses penataan. Pemerintah tetap dapat membenahi penggunaan ruang publik, tetapi pada saat bersamaan memberikan alternatif bagi pedagang untuk melanjutkan aktivitas ekonominya.

Bagi Suparno, penataan kota dan keberlangsungan usaha masyarakat seharusnya tidak ditempatkan sebagai dua kepentingan yang saling bertentangan. Keduanya dapat berjalan bersamaan apabila pemerintah menyediakan aturan dan ruang usaha yang jelas.

“Penataan memang penting, tetapi jangan sampai kebijakan itu justru mematikan usaha masyarakat kecil,” pungkasnya. (Kal/El/ADV/DPRD Samarinda)

TAGGED:DPRD Kota SamarindaSuparno
Share This Article
Facebook Pinterest Whatsapp Whatsapp Email Copy Link Print
Previous Article Manusia Silver Kembali Muncul di Lampu Merah Samarinda, DPRD Soroti Konsistensi Penertiban
Next Article TKD Berkurang, DPRD Samarinda Sederhanakan Perayaan HUT ke-81 RI

Berita Undas

DPRD Samarinda Ingin Pasar Pagi Punya Konsep yang Lebih Menarik
Kamis, 27 Agustus 2026
DPRD Samarinda Soroti Rendahnya Minat KB, Edukasi Diminta Dimulai Sebelum Menikah
Kamis, 27 Agustus 2026
DPRD Samarinda Desak Evaluasi Pencegahan Narkotika di Sekolah
Kamis, 27 Agustus 2026
DPRD Samarinda Dorong Tes Urine Pelajar Digelar Berkala Usai 12 Siswa SMP Positif Narkoba
Rabu, 26 Agustus 2026
Ruang Publik Baru Samarinda Rampung, Jasno Dorong Segera Dioperasikan
Rabu, 26 Agustus 2026

Berita yang mungkin kamu sukai

Pemain Borneo FC Samarinda, saat sesi latihan bersama tim.(Ist)
Olahraga

Matheus Pato: Harapan Baru di Tengah Terjalnya Jalan Borneo FC

2 Min Read
Joaquin Gomez.
Olahraga

Joaquin Gomez, Pelatih Baru Borneo FC: Harapan Baru di Tengah Tekanan Kompetisi

3 Min Read
Advertorial

DLHK Kukar Gandeng Disdikbud untuk Kembangkan Bank Sampah di Sekolah, Ini Inovasinya

2 Min Read
Ikon Baru Tugu Pesut Mahakam, di Simpang Lembuswana Kota Samarinda.
Pemerintahan

Tugu Pesut Mahakam: Kontroversi Desain dan Komitmen Pemkot Samarinda dalam Penataan Kota

2 Min Read
Sekala.id

Afiliasi:

Logo SMSI
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
© 2023 sekala.id. PT Sekala Media Klausa. All Rights Reserved
Welcome Back!

Sign in to your account

Nama Pengguna
Password

Lost your password?