Samarinda, Sekala.id – Konflik agraria yang tak kunjung usai di Kalimantan Timur (Kaltim) kembali memicu perlawanan. Sejumlah warga dari berbagai daerah di Benua Etam bersiap menggelar aksi massa bertajuk “Ketuk Pintu Gubernur” di halaman Kegubernuran Kaltim, Jalan Gajah Mada, Samarinda pada Senin (18/5/2026) mendatang.
Aksi ini dipicu oleh kekecewaan mendalam masyarakat yang ruang hidupnya tergerus oleh klaim sepihak perusahaan pemegang Hak Guna Usaha (HGU). Warga menuntut pemerintah provinsi (pemprov) tidak lagi menutup mata dan segera memberikan kepastian hukum yang konkret atas tanah mereka.
Koordinator aksi, Nina Iskandar menegaskan bahwa gerakan ini murni lahir dari keresahan akar rumput yang selama ini tak berdaya menghadapi raksasa korporasi. Menurutnya, posisi masyarakat selalu dilemahkan saat berhadapan dengan perusahaan berskala besar.
”Banyak masyarakat merasa hak mereka belum mendapatkan perhatian yang adil ketika berhadapan dengan perusahaan besar. Kami ingin suara warga didengar pemerintah,” tegas Nina melalui keterangan tertulis, Jumat (15/5/2026).
Nina membeberkan, dampak dari konflik agraria ini sudah sangat mengkhawatirkan. Bukan sekadar urusan carut-marut administrasi pertanahan, melainkan sudah menghantam sendi-sendi sosial masyarakat. Banyak warga kini dihantui ketidakpastian hidup setelah lahan yang mereka kelola secara turun-temurun tiba-tiba dicaplok masuk dalam area konsesi perusahaan.
Demi membuktikan bahwa tuntutan mereka bukan tudingan belaka, massa aksi berencana membawa dokumen-dokumen otentik kepemilikan lahan, membentangkan spanduk tuntutan, dan menyampaikan aspirasi secara terbuka langsung di hadapan Pemprov Kaltim.
Warga mendesak jajaran eksekutif di bawah komando Gubernur Kaltim untuk mengambil peran aktif, bukan sekadar menjadi penonton di tengah konflik warganya sendiri dengan pemegang HGU.
”Kami ingin pemerintah hadir di tengah masyarakat dan tidak membiarkan persoalan ini terus berlarut,” cetus Nina.
Menjelang aksi hari Senin, panitia juga membuka ruang solidaritas bagi seluruh elemen masyarakat di Kaltim yang mengalami nasib serupa untuk merapatkan barisan. Kendati membawa amarah atas ketidakadilan, Nina memastikan bahwa aksi “Ketuk Pintu Gubernur” ini akan berjalan dengan damai, tertib, dan fokus mendesak reformasi agraria di daerah bergulir. (Kal/El/Sekala)