Samarinda, Sekala.id – Pemadaman listrik yang berulang di Samarinda mulai berdampak pada pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat. Selain mengganggu aktivitas warga dan pelaku usaha, persoalan kelistrikan juga berimbas pada ketersediaan air bersih, sehingga menambah beban masyarakat di tengah kenaikan harga kebutuhan pokok.
Wakil Ketua III DPRD Samarinda, Celni Pita Sari, menilai gangguan listrik yang terus terjadi tidak bisa dianggap sebagai persoalan biasa. Kondisi tersebut menimbulkan kerugian bagi masyarakat, termasuk kerusakan peralatan elektronik dan genset yang digunakan sebagai sumber listrik cadangan.
“Bahkan rumah saya pribadi pun gensetnya akhirnya ikut rusak,” ungkap Celni, Selasa (27/10/2026).
Menurut Celni, persoalan ini semakin memberatkan warga karena terjadi bersamaan dengan meningkatnya harga barang kebutuhan sehari-hari. Masyarakat harus menghadapi pengeluaran yang lebih besar, sementara layanan dasar yang dibutuhkan untuk menunjang aktivitas harian justru mengalami gangguan.
Ia menyoroti kondisi warga yang harus berhadapan dengan pemadaman listrik sekaligus kesulitan mendapatkan air bersih. Situasi tersebut dinilai membutuhkan perhatian serius dari pihak terkait, mengingat listrik dan air merupakan kebutuhan penting bagi rumah tangga maupun kegiatan ekonomi.
“Barang mahal, PLN suka mati, kemudian air juga enggak ada,” keluhnya.
Celni juga mengingatkan bahwa dampak pemadaman listrik tidak hanya dirasakan masyarakat yang menggunakan listrik untuk kebutuhan rumah tangga. Pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) turut menghadapi kendala karena kegiatan operasional mereka membutuhkan pasokan listrik yang stabil.
Gangguan listrik berulang berpotensi menghambat aktivitas usaha, terutama bagi pelaku UMKM yang bergantung pada peralatan elektronik dalam menjalankan kegiatan sehari-hari. Di sisi lain, terganggunya pasokan air bersih menambah persoalan yang harus dihadapi warga.
Menurut Celni, masyarakat Samarinda selama ini telah berupaya bersabar menghadapi berbagai kendala pelayanan. Namun, ketika pemadaman listrik terjadi berulang kali dan distribusi air bersih ikut terganggu, beban yang ditanggung masyarakat menjadi semakin berat.
Untuk membantu warga terdampak, bantuan masker dan distribusi air bersih telah disalurkan ke sejumlah kawasan di Samarinda. Penyaluran air bersih tersebut menyasar sejumlah wilayah pinggiran, termasuk Samarinda Utara dan Palaran.
Bantuan itu menjadi salah satu bentuk kepedulian terhadap masyarakat yang mengalami kesulitan memenuhi kebutuhan air bersih. Meski demikian, penanganan melalui bantuan dinilai perlu diikuti evaluasi terhadap persoalan mendasar yang menyebabkan gangguan layanan.
Karena itu, DPRD Samarinda berencana memanggil pihak Perusahaan Listrik Negara (PLN) dan perusahaan daerah air minum (PDAM) melalui rapat dengar pendapat (RDP).
Langkah tersebut dimaksudkan untuk membahas persoalan kelistrikan yang terus dikeluhkan masyarakat sekaligus mengevaluasi gangguan pelayanan air bersih. Melalui forum tersebut, DPRD akan meminta penjelasan dari kedua pihak terkait persoalan yang berdampak langsung pada kebutuhan warga.
Celni menegaskan, pemanggilan PLN dan PDAM menjadi langkah yang direncanakan DPRD untuk menindaklanjuti persoalan tersebut. Kedua penyedia layanan itu akan dimintai keterangan agar permasalahan yang dikeluhkan masyarakat mendapat perhatian.
“Rencananya kita akan melakukan panggil, baik itu PDAM dan PLN,” pungkasnya. (Kal/El/ADV/DPRD Samarinda)