Samarinda, Sekala.id – Persoalan kekurangan tenaga pengajar kembali diperhatikan DPRD Samarinda. Kondisi itu dinilai makin mengkhawatirkan karena jumlah guru yang pensiun tiap tahun tidak sebanding dengan ketersediaan tenaga pengganti.
Wakil Ketua Komisi IV DPRD Samarinda, Sri Puji Astuti, mengatakan dunia pendidikan di Kota Tepian tengah menghadapi tantangan serius akibat berkurangnya tenaga pendidik secara bertahap.
Menurut dia, setiap tahun ada ratusan guru di Samarinda pensiun maupun meninggal dunia. Di sisi lain, pemerintah daerah kini memiliki keterbatasan dalam merekrut tenaga honorer untuk menutup kebutuhan di sekolah-sekolah.
“Setiap tahun ada sekitar 150 sampai 200 guru pensiun maupun yang meninggal. Sementara pengangkatan honorer juga terbatas,” ujar Sri, Selasa (26/5/2026).
Dampaknya mulai dirasakan sejumlah sekolah, terutama di tingkat sekolah dasar. Kekurangan wali kelas disebut menjadi persoalan paling banyak ditemui. Selain itu, kebutuhan guru Bahasa Inggris juga mulai mendesak seiring rencana penerapan mata pelajaran tersebut sebagai pelajaran wajib di tingkat dasar.
Sri menilai kondisi tersebut tidak bisa dibiarkan berlarut. Jika kekurangan guru terus terjadi, kualitas pembelajaran di sekolah dikhawatirkan ikut terdampak.
Komisi IV DPRD Samarinda pun meminta pemerintah daerah segera menyiapkan langkah konkret untuk memenuhi kebutuhan tenaga pengajar. Pemerataan akses pendidikan dan kualitas layanan belajar disebut harus tetap menjadi prioritas.
Di tengah persoalan itu, DPRD Samarinda sebenarnya sempat mengusulkan pemberian subsidi bagi sekolah swasta. Skema tersebut diharapkan bisa membantu menampung siswa yang tidak tertampung di sekolah negeri.
Namun, usulan tersebut belum dapat direalisasikan karena keterbatasan kemampuan anggaran daerah.
“Subsidi sekolah swasta sebenarnya pernah kami usulkan, tapi kondisi anggaran saat ini masih menjadi tantangan,” tuturnya. (Kal/El/Sekala)