Kutai Barat, Sekala.id – Akibat curah hujan yang mulai tinggi, membuat harga sayuran seperti timun di sejumlah pasar yang ada di Kabupaten Kutai Barat (Kubar) mulai naik, ini membuat sejumlah pedagang dan masyarakat mulai resah.
Salah satunya harga timun di Pasar Nala, Kecamatan Linggang Bigung, melonjak tajam dalam sepekan terakhir. Saat ini, harga di tingkat pedagang mencapai Rp20.000–Rp28.000 per kilogram, naik drastis dari sebelumnya yang hanya Rp7.000–Rp8.000 per kilogram.
Sejumlah pedagang menyebut kenaikan harga ini terjadi karena pasokan di tingkat petani menurun. Curah hujan yang cukup lebat dalam beberapa minggu terakhir diduga menjadi penyebab utama banyaknya tanaman yang gagal panen atau terserang hama, sehingga timun yang masuk ke pasar semakin sedikit.
Salah satu pedagang, Lely (45), mengatakan kenaikan harga sudah terasa sejak awal pekan dan berdampak langsung pada penjualannya, ucapnya, Sabtu (15/11/2025).
“Kami ambil dari pengepul sudah harganya juga mahal sekali, jadi di pasar ikut naik. Pembeli banyak yang ngeluh, biasanya beli satu atau dua kilo, sekarang cuma setengah kadang juga per harga yang di minta pelanggan,” tutur Lely.
Ia juga menambahkan bahwa kondisi cuaca membuat petani tidak bisa memasok timun seperti biasanya.
“Katanya di kebun banyak yang busuk, kena hujan terus. Makanya kiriman ke pasar menjadi berkurang,” imbuhnya.
Sementara itu, warga kampung Bangun Sari, Kecamatan Linggang Bigung , Rudi (58), yang berjualan warung makan, turut merasakan beratnya kenaikan harga ini.
“Saya jualan warung makan, timun itu dipakai setiap hari. Kalau naik sampai segini, berat sekali. Harga jual makanan juga nggak bisa langsung dinaikkan, takut pelanggan keberatan,” pungkas Rudi kepada awak media.
Dengan pasokan yang masih terbatas dan cuaca yang belum stabil, pedagang berharap harga timun bisa kembali normal dalam waktu dekat agar aktivitas jual beli tidak semakin terdampak. (Btr/Sekala/Adv)