Samarinda, Sekala.id – Ketegangan yang sempat mewarnai rapat konsultasi hak angket DPRD Kalimantan Timur (Kaltim) kini resmi menggelinding ke ranah internal. Wakil Ketua Fraksi Gerindra DPRD Kaltim, Akhmed Reza Fachlevi, memastikan dirinya telah melayangkan laporan pengaduan pribadi ke Badan Kehormatan (BK) DPRD Kaltim.
Langkah ini diambil sebagai tindak lanjut atas polemik panas yang melibatkan sesama anggota legislatif dalam rapat tersebut beberapa waktu lalu. Reza menegaskan, bola panas kasus ini sepenuhnya telah diserahkan kepada mekanisme BK.
“Laporan dari saya pribadi sudah diserahkan ke Badan Kehormatan. Tinggal menunggu proses selanjutnya sesuai aturan yang ada di DPRD,” ungkap Reza saat dikonfirmasi, Kamis (28/5/2026).
Meski sempat memicu friksi, legislator Karang Paci, sebutan DPRD Kaltim, ini mengaku enggan larut dalam konflik yang berkepanjangan. Reza memilih mendinginkan suasana dan mengajak seluruh pihak untuk melakukan refleksi bersama atas dinamika emosional yang terjadi saat rapat berlangsung.
Dia tidak menampik adanya potensi kekeliruan, baik dari dirinya maupun pihak lain yang terlibat dalam ketegangan tersebut.
“Kita tentu tidak ingin ada permusuhan di DPRD ini. Bisa jadi saya juga ada salah, begitu juga pihak lainnya. Yang penting bagaimana semuanya diselesaikan dengan baik,” tuturnya bijak.
Bagi politikus muda ini, menjaga marwah lembaga legislatif jauh lebih penting ketimbang menuruti ego sektoral. Ia menekankan bahwa nilai kesantunan dan adab yang ditanamkan sejak dini dari lingkungan keluarga dan adat harus tetap menjadi kompas utama dalam berpolitik.
“Kadang ada hal yang tersikapi secara emosional. Tapi kami diajarkan untuk tetap menjaga adab dan etika,” tambahnya.
Terkait kelanjutan laporan tersebut, Reza mengaku telah menjalin komunikasi awal dengan Ketua BK DPRD Kaltim, Subandi. Agenda mediasi antarpihak kini tengah dijadwalkan oleh pihak BK.
“Saya sudah dihubungi Ketua BK. Katanya nanti akan ada pemanggilan untuk mediasi. Kita tunggu saja prosesnya,” kata Reza.
Di akhir keterangannya, Reza memberikan catatan tebal agar persoalan ini tidak digoreng menjadi komoditas politik atau dikaitkan dengan persaingan antarfraksi dan partai politik. Ia menegaskan insiden tersebut murni merupakan dinamika personal.
“Jangan sampai dikait-kaitkan dengan partai atau kepentingan politik tertentu. Ini lebih kepada persoalan pribadi,” tegasnya.
Reza berharap, lewat intervensi BK DPRD Kaltim, polemik ini dapat bermuara pada solusi yang bijaksana sekaligus menjadi alarm pengingat bagi seluruh anggota dewan tentang pentingnya saling menghormati.
“Kita tidak bisa mengedepankan ego masing-masing. Dalam politik, berteman, maupun kehidupan sehari-hari, adab dan etika tetap harus dijaga,” pungkasnya. (Jor/El/Sekala)