Samarinda, Sekala.id – Krisis tenaga medis tengah menghantui Kalimantan Timur (Kaltim). Wakil Ketua Komisi IV DPRD Kaltim, Andi Satya Adi Saputra, membeberkan bahwa Bumi Etam masih kekurangan sekitar dua ribu dokter untuk mencapai standar ideal pelayanan kesehatan. Mirisnya, sebagian besar dokter yang ada pun terkonsentrasi di kota besar.
“Kalau hanya menunggu lulusan lokal, kita bisa ketinggalan terus. Sementara masyarakat di daerah 3T sudah terlalu lama menunggu,” ujar Adi, Rabu (16/4/2025).
Politikus Partai Golkar yang juga seorang dokter ini mengusulkan pendekatan yang lebih strategis. Yakni dengan membina dan mendidik anak-anak daerah dengan sistem beasiswa terikat. Mereka akan diberi akses pendidikan kedokteran dengan syarat kembali mengabdi di kampung halamannya.
“Kalau ingin solusi jangka panjang, investasi SDM adalah jawabannya. Harus ada beasiswa yang mengikat, supaya mereka kembali dan membantu daerahnya sendiri,” tegasnya.
Tak hanya itu, Adi juga mendorong pemanfaatan teknologi digital untuk menjembatani keterbatasan layanan. Menurutnya, program WiFi gratis yang digagas Pemprov Kaltim bisa menjadi kunci membuka akses telemedisin di daerah-daerah terpencil.
“Telemedisin bisa jadi game changer. Dengan koneksi internet yang sudah tersedia, tinggal dimaksimalkan saja,” jelasnya.
Sementara untuk solusi jangka pendek, ia menyarankan agar Pemprov segera menggandeng kampus-kampus dalam dan luar daerah untuk mengisi kekosongan tenaga medis secara temporer. Penyebaran tenaga medis juga perlu ditata ulang, agar pelayanan tidak hanya menumpuk di Samarinda, Balikpapan, dan Bontang.
“Kesehatan bukan cuma soal fasilitas, tapi juga kehadiran manusia yang melayani. Kalau di kota semuanya tersedia, bagaimana dengan Mahakam Ulu atau Kutai Barat?” tanya Adi. (Jor/El/Sekala)