Mahulu, Sekala.id – Di sudut terpencil Kalimantan Timur (Kaltim), sebuah kabupaten kecil bernama Mahakam Ulu (Mahulu) tengah menantikan momen besar dalam sejarahnya. Mimpi memiliki bandara, yang dulu hanya angan-angan di tengah keterbatasan mulai mendapatkan bentuk nyata. Kamis pekan lalu, tim survei dari Direktorat Jenderal Perhubungan Udara, Kementerian Perhubungan RI, tiba di Mahulu. Bukan sekadar kunjungan biasa, tetapi langkah awal untuk mewujudkan proyek transportasi udara yang dapat mengubah wajah kabupaten ini.
Mahulu, dengan segala keterbatasannya, adalah cerita tentang perjuangan. Dikelilingi hutan lebat dan hanya bisa dijangkau dengan perjalanan panjang melalui sungai atau jalur darat yang sulit, kabupaten ini hidup di tengah isolasi. Namun, keterbatasan itu tidak menyurutkan semangat pemerintah daerahnya.
“Kami sudah menyiapkan semuanya, termasuk pembebasan lahan dengan sertifikat legal. Ini bukan lagi mimpi tanpa dasar. Mahulu butuh bandara, bukan untuk kemewahan, tapi demi kebutuhan dasar masyarakat,” ujar Stephanus Madang, Sekretaris Daerah Mahulu.
Rencana pembangunan bandara di Mahulu bukan hanya soal membuka jalur transportasi baru. Ini adalah soal membuka gerbang peradaban. Dengan bandara, akses ke pendidikan, layanan kesehatan, dan distribusi barang akan lebih mudah. Ekonomi daerah pun bisa bertumbuh, membawa harapan baru bagi masyarakat yang selama ini hidup dalam keterbatasan.
“Kami membayangkan, ketika Grand Caravan bisa mendarat di Mahulu, itu akan menjadi awal dari perubahan besar. Distribusi barang akan lebih cepat, pasien yang membutuhkan rujukan medis bisa segera tertangani, dan anak-anak Mahulu tidak lagi terkendala akses untuk mengejar pendidikan,” kata Stephanus.
Langkah konkret telah diambil. Landasan pacu dirancang sesuai masukan dari berbagai pihak, dan koordinasi dengan penyedia jasa penerbangan terus dilakukan.
“Kami berharap, tahun depan, pesawat pertama akan mendarat di Mahulu. Ini bukan sekadar infrastruktur, ini adalah simbol perubahan,” tambahnya.
Pembangunan bandara di Mahulu adalah cerita tentang harapan di tengah keterbatasan. Bagi masyarakat Mahulu, bandara bukan hanya tempat pesawat mendarat. Ia adalah simbol dari peluang baru—peluang untuk terhubung dengan dunia luar, untuk mendapatkan hak dasar yang selama ini sulit dijangkau.
“Pak Bupati selalu menekankan, bandara ini adalah prioritas. Kami bekerja keras agar mimpi ini tidak berhenti di tengah jalan,” tutur Stephanus.
Mahulu, kabupaten kecil di tengah hutan Kalimantan, sedang bersiap melangkah ke masa depan. Dengan bandara, kabupaten ini tidak hanya membuka jalur udara, tetapi juga membuka peluang dan harapan yang lebih besar. (Jor/Mul/ADV/Pemkab Kutim)