Samarinda, Klausa.co – Fungsi partai politik (parpol) di Kalimantan Timur (Kaltim) kini berada di titik rendah. Bukannya menjadi sarana pendidikan politik bagi publik, parpol justru dinilai terjebak dalam kepentingan elite dan kehilangan konsistensi sikap.
Akademisi Fakultas Hukum Universitas Mulawarman (FH Unmul), Herdiansyah Hamzah, yang akrab disapa Castro, menyebut parpol saat ini tidak lagi berfungsi sebagaimana mestinya. Dia menyoroti bagaimana prinsip dan martabat politik seolah digadaikan demi kepentingan sesaat.
“Partai politik tidak memberikan pelajaran penting bagi publik tentang pilihan-pilihan politik, prinsip partai politik yang harusnya punya martabat dan punya konsistensi,” tegas Castro pada Senin (18/5/2026).
Menurut Castro, ada tiga poin krusial yang membuat rapor parpol di Benua Etam memerah. Castro menilai parpol gagal menjadi teladan dalam berpolitik. Alih-alih teguh pada ideologi, arah kebijakan seringkali berubah drastis tanpa landasan yang jelas. Hal ini, menurutnya, menjadi pemicu utama merosotnya kepercayaan masyarakat terhadap institusi politik.
Pada poin kedua, Castro menegaskan bahwa setiap keputusan politik seharusnya bermuara pada kepentingan rakyat Kaltim, bukan sekadar kepentingan dan penggugur politik internal atau elite partai.
“Yang dikejar itu harusnya standing partai politik. Parpol harus berdiri tegak dengan kepentingan masyarakat Kaltim, bukan kepentingan partai politiknya saja,” imbuhnya.
Terakhir, sorotan paling tajam diarahkan pada mekanisme pengambilan keputusan di tubuh parpol. Castro menyebut parpol saat ini sangat tidak demokratis karena suara kader di akar rumput kerap dikesampingkan oleh otoritas tunggal.
“Kelemahannya, internal partai tidak demokratis. Semua bergantung pada ketua umum, semua bergantung pada DPP. Bukan berdasarkan pilihan-pilihan aspiratif yang sebenarnya bisa diambil,” pungkasnya. (Kal/El/Sekala)