Samarinda, Sekala.id – Antusiasme warga Samarinda menyambut bantuan perbaikan kendaraan dari Pemerintah Kota (Pemkot) berbanding terbalik dengan kapasitas yang tersedia. Di tengah upaya Pemkot menunjukkan kepedulian, program bantuan bagi korban kerusakan motor akibat dugaan BBM tercampur justru mengungkap ketimpangan di lapangan.
Halaman Kantor Kecamatan Sungai Pinang, Senin (14/4/2025), telah dipenuhi antrean sejak pukul 09.00 Wita. Namun, suasana harap-harap cemas berubah menjadi kecewa ketika kuota bantuan hanya cukup untuk segelintir orang.
“Saya datang pagi-pagi, tapi katanya sudah penuh. Ini baru hari pertama, kok kuotanya cepat habis?” keluh Caca, warga Jalan Gerilya yang motornya rusak usai mengisi BBM.
Plt Camat Sungai Pinang, Mohamad Joni, menyebut penyaluran ini sebagai bentuk tanggap darurat dari Pemkot Samarinda, sesuai arahan Wali Kota Andi Harun. Namun, ia mengakui bantuan memang terbatas.
“Data awal kami perkirakan 600 kendaraan terdampak se-Kota Samarinda. Tiap kecamatan dapat jatah 60 kendaraan. Tentu ini masih jauh dari cukup,” ungkapnya.
Sementara Fahrial, warga lain yang beruntung mendapat bantuan, merasa lega meski nilainya tak besar.
“Paling tidak ada perhatian dari pemerintah. Motor saya rusak setelah isi BBM di SPBU Kebaktian, dan ini bisa bantu meringankan ongkos bengkel,” katanya.
Namun, cerita lain datang dari Adit yang harus pulang tanpa kejelasan.
“Katanya nanti dikabari kalau ada tambahan. Tapi saya belum tahu harus tunggu sampai kapan,” ujarnya kecewa.
Pemerintah memang hadir, tapi belum semua bisa merasakan manfaatnya. Keterbatasan informasi, lambannya distribusi, dan sempitnya kuota jadi catatan penting.
“Kami akan terus berkoordinasi dengan bagian Kesra untuk solusi. Mungkin lewat subsidi silang atau mekanisme tambahan. Dan ke depan, informasi akan kami buka lebih luas agar tidak ada yang tertinggal,” janji Joni. (Jor/El/Sekala)