Samarinda, Sekala.id – Penerapan pembelajaran jarak jauh (PJJ) di Kota Tepian akibat buruknya kualitas udara tak serta-merta membuat seluruh siswa bisa belajar dengan nyaman. Di balik upaya melindungi kesehatan anak, keterbatasan perangkat dan jaringan internet masih menjadi kendala yang perlu diperhatikan.
Wakil Ketua Komisi IV DPRD Samarinda, Sri Puji Astuti, menilai keberhasilan PJJ tidak cukup dilihat dari terlaksananya pembelajaran secara daring. Hal yang lebih penting adalah memastikan setiap siswa tetap mendapatkan materi pelajaran, termasuk mereka yang tidak memiliki fasilitas penunjang.
Persoalan itu ditemukannya saat memantau sejumlah sekolah di Kecamatan Sambutan. Menurutnya, kondisi siswa tidak seragam. Ada yang dapat mengikuti pembelajaran melalui laptop dan internet, tetapi ada pula yang kesulitan karena tidak memiliki ponsel pintar maupun akses jaringan yang memadai.
“Kalau ngomong ini efektif atau tidak, secara umum efektif. Tapi kalau kita lihat kasus per kasus, ada anak-anak yang tidak memiliki akses untuk itu,” ujarnya, Rabu (28/10/2026).
Ia juga melihat penggunaan teknologi dalam pembelajaran belum tentu menjangkau seluruh siswa. Ketika guru menyampaikan materi dan memberikan tugas secara daring, anak didik yang memiliki keterbatasan perangkat berisiko tidak memperoleh pengalaman belajar yang sama.
“Tidak semua memiliki akses HP atau internet, atau mungkin gurunya tidak punya laptop. Nah, itu kan jadi masalah,” katanya.
Karena itu, Sri Puji mengingatkan agar pelaksanaan PJJ tidak berhenti pada pemberian tugas kepada siswa. Penjelasan materi dari guru tetap diperlukan supaya anak-anak dapat memahami pelajaran, bukan sekadar menyelesaikan tugas selama berada di rumah.
Meski demikian, ia memahami kebijakan tersebut diambil dalam situasi yang membutuhkan perhatian khusus. Kualitas udara yang memburuk menjadi pertimbangan penting agar siswa tidak terus terpapar kondisi yang berpotensi mengganggu kesehatan.
“Ini ‘kan keadaan luar biasa. Dengan kondisi udara yang buruk, enggak mungkin kita membiarkan anak-anak kita terpapar sampai kesehatannya terganggu,” tuturnya.
Sri Puji berharap masa PJJ tidak berlangsung terlalu lama. Ketika pembelajaran tatap muka kembali dilaksanakan, guru diharapkan dapat memberikan penguatan materi untuk membantu siswa mengejar ketertinggalan selama belajar dari rumah.
Dalam pemantauannya, ia juga mendapati perbedaan pelaksanaan pembelajaran di sekolah. Saat berkunjung ke SMP Negeri 23 Samarinda, para siswa terlihat tetap hadir di sekolah, sementara sejumlah sekolah dasar yang dipantaunya telah menerapkan PJJ.
Menurutnya, perlindungan kesehatan dan pemenuhan hak belajar siswa perlu berjalan beriringan. Ia berharap kebijakan tersebut hanya berlangsung selama kondisi memang mengharuskannya.
“Harapannya PJJ-nya sebentar saja,” pungkasnya. (Kal/El/ADV/DPRD Samarinda)