By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Sekala.id
  • Nasional
  • Daerah
    • Samarinda
    • Balikpapan
    • Bontang
    • Kutai Kartanegara
    • Kutai Timur
    • Kutai Barat
  • Peristiwa
  • Hukum & Kriminal
  • Politik
  • Ekonomi
  • Lainnya
    • Pemerintahan
    • Parlemen
    • Advertorial
    • Kultur
    • Olahraga
    • Hiburan
    • Inspirasi
Sekala.idSekala.id
Font ResizerAa
  • Nasional
  • Daerah
  • Hukum & Kriminal
  • Politik
  • Ekonomi
  • Pemerintahan
  • Parlemen
  • Kultur
  • Olahraga
  • Peristiwa
  • Inspirasi
  • Advertorial
  • Hiburan
Search
  • Nasional
  • Daerah
    • Balikpapan
    • Bontang
    • Kutai Kartanegara
    • Samarinda
    • Kutai Barat
  • Hukum & Kriminal
  • Politik
  • Ekonomi
  • Pemerintahan
  • Parlemen
  • Kultur
  • Olahraga
  • Peristiwa
  • Inspirasi
  • Advertorial
  • Hiburan
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
© 2023 sekala.id. PT Sekala Media Klausa. All Rights Reserved
Nasional

MKMK akan Percepat Putusan, Hindari Spekulasi Berkaitan Agenda Politik

Redaksi
By Redaksi
Published: Selasa, 31 Oktober 2023
Share
Ketua MKMK Jimly Asshiddiqie (Foto: Ist)
SHARE

Jakarta, Sekala.id – Pada Senin (30/10/2023) lalu, suasana di gedung Mahkamah Konstitusi (MK) tampak tegang. Sejumlah orang berjalan mondar-mandir di koridor, sambil membawa dokumen-dokumen penting. Mereka adalah anggota Majelis Kehormatan Mahkamah Konstitusi (MKMK), lembaga yang bertugas mengawasi perilaku hakim konstitusi dan memberikan sanksi jika terbukti bersalah.

MKMK sedang menghadapi perkara yang sangat sensitif dan mendapat sorotan publik. Sembilan hakim konstitusi yang mengeluarkan putusan kontroversial tentang syarat calon presiden dan wakil presiden menjadi terlapor di MKMK. Putusan itu dinilai melanggar kode etik dan berpotensi menguntungkan salah satu kandidat di Pilpres 2024.

“Kami rancang putusan ini harus selesai pada tanggal 7 November, karena pada tanggal 8 November itu ‘kan kesempatan terakhir untuk pengusulan perubahan bakal pasangan calon presiden dan wakil presiden,” ungkap Ketua MKMK Jimly Asshiddiqie kepada wartawan.

Jimly mengatakan bahwa MKMK berencana mempercepat putusan perkara tersebut, dari yang seharusnya 30 hari kerja menjadi hanya 22 hari. Alasannya, MKMK ingin menghindari spekulasi bahwa putusan itu berkaitan dengan agenda politik, terutama menjelang batas akhir pengusulan perubahan pasangan bakal capres dan cawapres di Pilpres 2024.

Jimly menegaskan bahwa percepatan putusan itu bukan berarti mengorbankan kualitas dan keadilan. Ia mengatakan bahwa MKMK telah melakukan sidang terbuka dan tertutup untuk memeriksa pelapor dan hakim terlapor secara profesional dan objektif.

“Kami sudah mendengarkan keterangan dari semua pihak yang terkait, baik pelapor, hakim, maupun staf ahli. Kami juga sudah mempelajari dokumen-dokumen yang relevan. Kami akan memutuskan berdasarkan fakta dan bukti yang ada,” kata Jimly.

Jimly berharap masyarakat tidak mengajukan laporan yang sama terkait dengan dugaan pelanggaran kode etik tersebut, karena hal itu hanya akan membuang-buang waktu dan energi. Ia mengatakan bahwa MKMK sudah menerima 18 laporan, yang sebagian besar menyoroti peran Ketua MK Anwar Usman dalam putusan kontroversial itu.

“Jadi, sekarang sudah ada 18 laporan, sudah nambah lagi dua laporan pada hari ini. Dari 18 laporan itu, ada enam isu. Kemudian, ada sembilan terlapor, tetapi laporan yang paling pokok, paling utama, paling banyak itu Pak Anwar Usman,” ujar Jimly.

Sebelumnya, Putusan MK Nomor 90/PUU-XXI/2023 yang menjadi sumber masalah itu adalah hasil dari gugatan warga negara Indonesia (WNI) bernama Almas Tsaqibbirru Re A. dari Surakarta, Jawa Tengah. Ia mengajukan permohonan pengujian Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilihan Umum (UU Pemilu) ke MK.

Pada Senin (16/10/2023), MK mengabulkan sebagian permohonannya dan menyatakan bahwa batas usia capres-cawapres berusia paling rendah 40 (empat puluh) tahun atau pernah/sedang menduduki jabatan yang dipilih melalui pemilihan umum, termasuk pemilihan kepala daerah, bertentangan dengan UUD 1945.

Putusan itu dianggap memberikan jalan bagi Gibran Rakabuming Raka, putra sulung Presiden Joko Widodo, untuk maju sebagai capres atau cawapres di Pilpres 2024. Gibran saat ini menjabat sebagai Wali Kota Solo dan baru berusia 36 tahun.

Banyak kalangan menilai bahwa putusan MK sarat konflik kepentingan, karena Anwar Usman merupakan ipar dari Jokowi alias paman dari Gibran. Anwar diduga menggunakan jabatannya sebagai Ketua MK untuk memuluskan langkah keponakannya menuju kursi nomor satu di Indonesia. (Kal/Zal/Sekala)

TAGGED:Anwar UsmanGibran Rakabuming RakaJimly AsshidiqieMahkamah KonstitusiMajelis Kehormatan MKPilpres 2024
Share This Article
Facebook Pinterest Whatsapp Whatsapp Email Copy Link Print
Previous Article Masinton Pasaribu Geram dengan Putusan MK, Minta DPR Gunakan Hak Angket
Next Article Terinfeksi Virus Cacar Monyet, Warga Bandung Dilarikan ke RSHS

Berita Undas

DPRD Samarinda Ingin Pasar Pagi Punya Konsep yang Lebih Menarik
Kamis, 27 Agustus 2026
DPRD Samarinda Soroti Rendahnya Minat KB, Edukasi Diminta Dimulai Sebelum Menikah
Kamis, 27 Agustus 2026
DPRD Samarinda Desak Evaluasi Pencegahan Narkotika di Sekolah
Kamis, 27 Agustus 2026
DPRD Samarinda Dorong Tes Urine Pelajar Digelar Berkala Usai 12 Siswa SMP Positif Narkoba
Rabu, 26 Agustus 2026
Ruang Publik Baru Samarinda Rampung, Jasno Dorong Segera Dioperasikan
Rabu, 26 Agustus 2026

Berita yang mungkin kamu sukai

Nasional

Presiden Jokowi Hadiri Festival Dahau, Ini Pesan Pj Gubernur Kaltim untuk IKN

3 Min Read
Nasional

Dampingi Jokowi, Pj Gubernur Kaltim Jelaskan Progres Pembangunan IKN dan Sekitarnya

2 Min Read
Nasional

Ganjar Pranowo vs Prabowo Subianto: Siapa Pilihan Pemilih Jokowi?

2 Min Read
Nasional

SBY: Surya Paloh dan Anies Baswedan Tidak Sidik, Tidak Jujur, Tidak Amanah, Bukan Akhlak Rasulullah

2 Min Read
Sekala.id

Afiliasi:

Logo SMSI
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
© 2023 sekala.id. PT Sekala Media Klausa. All Rights Reserved
Welcome Back!

Sign in to your account

Nama Pengguna
Password

Lost your password?