By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Sekala.id
  • Nasional
  • Daerah
    • Samarinda
    • Balikpapan
    • Bontang
    • Kutai Kartanegara
    • Kutai Timur
    • Kutai Barat
  • Peristiwa
  • Hukum & Kriminal
  • Politik
  • Ekonomi
  • Lainnya
    • Pemerintahan
    • Parlemen
    • Advertorial
    • Kultur
    • Olahraga
    • Hiburan
    • Inspirasi
Sekala.idSekala.id
Font ResizerAa
  • Nasional
  • Daerah
  • Hukum & Kriminal
  • Politik
  • Ekonomi
  • Pemerintahan
  • Parlemen
  • Kultur
  • Olahraga
  • Peristiwa
  • Inspirasi
  • Advertorial
  • Hiburan
Search
  • Nasional
  • Daerah
    • Balikpapan
    • Bontang
    • Kutai Kartanegara
    • Samarinda
    • Kutai Barat
  • Hukum & Kriminal
  • Politik
  • Ekonomi
  • Pemerintahan
  • Parlemen
  • Kultur
  • Olahraga
  • Peristiwa
  • Inspirasi
  • Advertorial
  • Hiburan
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
© 2023 sekala.id. PT Sekala Media Klausa. All Rights Reserved
PolitikSamarinda

Politik Uang Mengancam Kualitas Demokrasi Pilkada Kaltim

Redaksi
By Redaksi
Published: Senin, 26 Agustus 2024
Share
Ilustrasi (Foto: Ist)
SHARE

Samarinda, Sekala.id – Jelang Pemilihan Kepala Daerah Kalimantan Timur (Pilkada Kaltim) yang akan digelar pada 27 November mendatang, ancaman politik uang kembali mencuat sebagai salah satu isu utama. Meskipun menjadi salah satu elemen kunci dalam demokrasi, praktik politik uang masih menjadi momok yang sulit dihindari dalam setiap kontestasi politik.

Galeh Akbar Tanjung, anggota Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Kaltim Divisi Pencegahan, Partisipasi Masyarakat, dan Humas, mengungkapkan kekhawatiran serius tentang kondisi politik di daerahnya. Berdasarkan Indeks Kerawanan Pemilu (IKP) terbaru, Kalimantan Timur berada di peringkat lima nasional dengan nilai 77,04 poin. Posisi tersebut menempatkan Kaltim di belakang Jakarta, Sulawesi Utara, Maluku Utara, dan Jawa Barat dalam hal kerawanan pemilu.

“IKP mencakup empat dimensi penting: konteks sosial-politik, penyelenggaraan pemilu, kontestasi, dan partisipasi,” jelas Galeh.

“Pengambilan data IKP ini sama pentingnya dengan data pemilu itu sendiri karena menjadi dasar dalam merancang program pencegahan dan mitigasi,” tambahnya.

Isu utama yang mengemuka adalah potensi praktik politik transaksional yang berpotensi merusak integritas Pilkada. Galeh menyebutkan bahwa praktik pemberian uang tunai, baik pada tahap pencalonan maupun selama kampanye, menjadi salah satu bentuk kerawanan yang signifikan. Masalah ini diperparah oleh ketidakakuratan laporan dana kampanye yang dapat menambah risiko terjadinya politik uang.

Kekhawatiran ini juga turut diungkapkan oleh Tim Pemenangan Isran Noor dan Hadi Mulyadi, pasangan calon gubernur yang tengah mempersiapkan diri untuk bersaing. Iswan Priady, juru bicara tim, menegaskan bahwa pemberian uang tunai kepada pemilih adalah hal yang sangat merugikan.

“Misalnya, jika setiap pemilih diberi Rp500 ribu, dengan jumlah pemilih di Kaltim yang mencapai jutaan, total biaya yang dikeluarkan akan sangat besar. Bahkan bila dihitung kasar saja, bisa mencapai angka Rp1 triliun,” tegas Iswan.

Menurut Iswan, tentunya ini berpotensi menyebabkan praktik kotor dan merugikan. Apalagi bila mengulik asal finansial yang beredar tersebut.

Isran Noor sendiri menekankan bahwa politik uang adalah potensi besar bagi korupsi.

“Kalau mau kaya, jangan jadi gubernur. Menjadi gubernur untuk kaya hanya bisa dilakukan melalui jalur korupsi. Jika tidak ditangkap KPK, Anda akan menghadapi konsekuensi dalam kehidupan secara langsung,” tegasnya.

Sementara itu, bakal lawan politik Isran dalam Pilkada mendatang, bakal calon Wakil Gubernur Kaltim, Seno Aji, juga menegaskan komitmennya untuk memerangi politik uang. Seno, bersama pasangannya Rudy Mas’ud, telah melaporkan kekhawatiran ini kepada Bawaslu dan Gakumdu, serta Polda Kaltim.

“Kami sudah memberikan pakta integritas dan berharap kerawanan politik uang bisa diminimalisasi,” ucap Seno.

Dengan peringatan tersebut, calon pemilih diharapkan dapat lebih cermat dan fokus pada visi dan misi kandidat daripada tergoda oleh praktik politik uang.

“Apalagi sebagai golongan muda, mesti fokus ke visi-misi. Itu yang harus diperhatikan,” kuncinya. (Jor/El/Sekala)

TAGGED:Bawaslu KaltimGaleh Akbar TanjungPilkada 2024Politik Uang
Share This Article
Facebook Pinterest Whatsapp Whatsapp Email Copy Link Print
Previous Article Pemprov Kaltim Intensif Turunkan Kemiskinan, Rumah Layak Huni dan Modal Usaha Jadi Fokus Utama
Next Article PKS Samarinda Dukung Andi Harun, Komitmen yang Harus Dibayar dengan Pembangunan

Berita Undas

DPRD Samarinda Ingin Pasar Pagi Punya Konsep yang Lebih Menarik
Kamis, 27 Agustus 2026
DPRD Samarinda Soroti Rendahnya Minat KB, Edukasi Diminta Dimulai Sebelum Menikah
Kamis, 27 Agustus 2026
DPRD Samarinda Desak Evaluasi Pencegahan Narkotika di Sekolah
Kamis, 27 Agustus 2026
DPRD Samarinda Dorong Tes Urine Pelajar Digelar Berkala Usai 12 Siswa SMP Positif Narkoba
Rabu, 26 Agustus 2026
Ruang Publik Baru Samarinda Rampung, Jasno Dorong Segera Dioperasikan
Rabu, 26 Agustus 2026

Berita yang mungkin kamu sukai

DPD Demokrat Kaltim memberikan dukungan kepada Isran Noor sebagai calon Gubernur di Pilkada Kaltim 2024
Politik

Demokrat Jadi Parpol Pertama yang Terbitkan Surat Tugas Konsolidasi dengan Isran Noor

3 Min Read
Calon Wali Kota Samarinda, Andi Harun, saat menghadiri acara TPTP Vol II di Dacoffe, Jalan Bung Tomo, Samarinda Seberang, pada Minggu malam (13/10/2024)
Politik

Roasting dan Kritik, Andi Harun Jawab Pemuda dengan Solusi Nyata untuk Samarinda dalam TPTP

3 Min Read
Samarinda

Andi Harun: Saya Akan Beri Hadiah Bagi yang Bisa Ungkap Pelaku Pemalakan Truk Sampah

2 Min Read
Parlemen

Parlemen Baru Kaltim, 31 Wajah Baru Duduk Sebagai Legislator

2 Min Read
Sekala.id

Afiliasi:

Logo SMSI
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
© 2023 sekala.id. PT Sekala Media Klausa. All Rights Reserved
Welcome Back!

Sign in to your account

Nama Pengguna
Password

Lost your password?